Enam desa tersebut yakni Desa Mukti Karya, Desa Tri Anggun Jaya, Desa Sindang Laya, Desa Harapan Makmur, Desa Bumi Makmur, dan Desa Tri Anggun Jaya. Warga menilai, setiap tahun agenda Safari Ramadan terkesan hanya menyentuh desa-desa tertentu, sementara wilayah mereka seolah luput dari perhatian.
“Setiap Ramadan kami lihat pejabat sibuk keliling desa. Tapi entah kenapa, desa kami seperti tidak pernah masuk daftar kunjungan. Kami ini bagian dari Musi Rawas juga,” ujar seorang warga setempat yang meminta namanya tidak disebutkan.Warga tersebut juga menyampaikan dugaan bernada sindiran. Ia mempertanyakan apakah ketidakhadiran pejabat karena faktor infrastruktur yang belum memadai.
“Jangan-jangan karena jalan ke desa kami masih berlumpur dan sulit dilalui, sehingga Bupati dan pejabat lainnya enggan datang? Kalau jalannya bagus mungkin cepat didatangi,” ucapnya.
Menurut warga, jika benar alasan medan menjadi pertimbangan, justru itulah yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Kondisi jalan yang berlumpur dan terisolir dinilai sebagai bukti nyata perlunya kehadiran langsung kepala daerah untuk melihat situasi sebenarnya di lapangan.
“Kalau desa yang aksesnya mudah terus yang didatangi, lalu bagaimana dengan kami yang memang butuh perhatian? Apakah karena kami jauh dan jalannya rusak, jadi tidak layak dikunjungi?” tambahnya.
Sejumlah warga menilai, jika Safari Ramadan benar-benar dimaknai sebagai momentum silaturahmi dan mendengar aspirasi rakyat, maka wilayah yang sulit dijangkau seharusnya justru menjadi prioritas, bukan dihindari.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Musi Rawas terkait apakah enam desa tersebut akan masuk dalam agenda Safari Ramadan tahun ini. Masyarakat berharap Ramadan menjadi momentum introspeksi bagi seluruh pemangku kebijakan agar tidak ada lagi kesan pilih kasih atau pengabaian terhadap desa-desa yang selama ini merasa terisolir di Kabupaten Musi Rawas.(Redaksik)
